Salah satu isi dari standar penilaian adalah metode yang digunakan dalam menilai hasil belajar siswa. Secara umum ada dua metoda/ acuan yang digunakan untuk melihat hasil belajar siswa yaitu penilaian acuan norma dan penilaian acuan patokan
Apabila kita melakukan pengukuran atau penilaian berarti kita membandingkan . Dalam membandingkan berarti membutuhkan pembanding. Dalam dunia pendidikan ada dua pendekatan yang digunakan sebagai pembanding, yaitu penilaian acuan norma atau PAN (norm referenced evaluation) dan penilaian acuan patokan.atau PAP (criterion refrenced evaluation)
a.. Penilaian Acuan Norma (PAN)
Penilaian acuan norma adalah penilaian yang dilakukan dengan membandingkan hasil belajar seorang siswa dengan siswa lainnya dalam suatu kelas. Penilaian jenis ini bersipat relatif karena yang dipakai relative atau tergantung tingkat kemampuan kelas secara keseluruhan ,yaitu angka rata- rata dan simpangan baku kurva penyebaran kelas tersebut. Nilai yang sama dari kelas yang berbeda memiliki arti yang berbeda.
Maksud dari penjelasan diatas adalah misalkan dalam suatu kelas ada sekelompok pelajar pandai sekali ,maka dengan pendekatan PAN selalu saja ada siswa yang mendapatkan nilai rendah walaupun kemampuan mereka cukup memuaskan dan selalu ada siswa yang mendapat nilai dibawah rata-rata. Apabila tingkat kemampuan sekelompok pelajar secara keseluruhan rendah maka dengan pendekatan PAN , siswa dengan kemampuan rendah dapat saja memproleh nilai yang memuaskan atau lulus bila ia berada diatas rata – rata.
Berikut ini adalah contoh tabel penilaian acuan norma
Banyaknya pelajar Nilai
10 % teratas
20% dibawahnya
40% dibawanya
20% dibawahnya lagi
10% terbawah A
B
C
D
E
Setelah angka mentah terkumpul ,maka disusun dalam table penyebaran lalu ditentukan banyaknya pelajar yang akan diberi nilai tertentu.
Pedoman seperti diatas ditetapkan oleh universitas atau institute pendidikan bersangkutan ,atau oleh laboratorium bila ditentukan secara umum.
b. Penilaian acuan patokan (PAP)
Apabila seorang pelajar atau panitia evaluasi yang menganggap bahwa pelajar harus mempunyai suatu tingkat kemampuan tertentu dan evaluasi dilakukan sesuai dengan patokan yang telah ditentukan ,maka kita memakai PAP. Patokan atau batas lulus itu dikatakan absolute karena telah ditetapkan sebelum penilaian atau evaluasi dilaksanaan.
Patokan ini dapat dipakai untuk kelompok pelajar yang berbeda – beda yang mendapat pengalaman belajar yang sama. Dengan PAP , nilai yang diperoleh dari waktu kewaktu dalam kelompok yang sama atau kelompok yang berbeda ,mempunyai arti yang sama. Menetapkan patokan yang benar – benar tuntas sangat sulit dilakukan dan penetapan batas lulus merupakan hal yang pokok dalam PAP.Sebelum pelajaran dimulai ,pelajar harus telah menentukan batas kompetensi minimum dan maksimum yang harus tercapai. Dan nilai akhir ditentukan berdasarkan seberapa jauh pelajar menguasai kompetensi minimum itu. Berikut ini merupakan contoh penilaian acuan patokan .
Tabel . 1.4 : Penilaian acuan patokan (PAP)
( Ditjen Pendidikan Tinggi , Dep.P dan K, 1980)
Derajat penguasaan Nilai akhir
90% - 100%
80% - 89%
65% - 79 %
55% - 64%
Kurang dari 55% A
B
C
D
E
Penggunaan pedoman ini sangat mudah dan tidak perlu perhitungan statistik. Jika kompetensi atau batas lulus yang harus dicapai oleh pelajar telah ditetapkan dengan tuntas dan jika penilaian dan pengukuran yang akan dipakai memang betul – betul dapat mengukur taraf kemampuan penguasaan kompetensi yang diharuskan itu, maka angka mentah yang telah dikonversikan ke angka 0 – 100 dapat langsung diberi nilai huruf sesuai dengan pedoman.
MASALAH – MASALAH POKOK DALAM PENILAIAN PENDIDIKAN
Sampai dengan tahun 70-an para pengajar atau para instruktur menghadapi hal penilaian dan pengukuran pendidikan tidak secara sungguh – sungguh. Pendididkan dibiarkan berdiri sendiri dan tidak ada tuntutan untuk disusun suatu evaluasi yang memenuhi syarat secara alamiah. Hal ini mungkin karena kesukaran tertentu ,antara lain:
1. Tidak adanya konsep kerangka evaluasi yang cocok.
2. Pada umumnya tidak ada penetapan tujuan pendidikan yang tepat
3. Kesukaran – kesukaran yang biasanya terdapat dalam semua bentuk pengukuran pendidikan.
4. Sistem pendidikan yang kurang memungkinkan suatu penanganan evaluasi yang baik
Cara evaluasi tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Evaluasi berarti berusaha menentukan seberapa jauh tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh para pengajar . Bila tidak ada patokan dalam pengukuran, maka sukar untuk melakukan evaluasi yang sesuai. Mungkin hanya tergantung pada perkiraan atau selera pengajar..
Dalam melakukan penilaian, ranah kognitif merupakan yang paling mudah untuk mudah untuk dinilai tujuannya sehingga banyak alat ukur yang dapat dikembangkan.
DISUSUN OLEH : I MADE SUPARSA / 5315077616
Senin, 04 Januari 2010
STANDAR ISI
Standar kompetensi disusun berdasarkan kurikulum, sedangakan kurikulum disusun berdasarkan standar isi dalam 8 standar pendidikan nasional, berikut ini adalah cara menyusun standar kompetensi
1. Standar kompetensi
Acuan yang digunakan untuk melaksanakan pendidikan dan memantau perkembangan mutu pendidikan yaitu standar kompetensi. Standar kompetensi merupakan batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dalam suatu mata ajar tertentu. Dengan demikian standar kompetensi dapat diartikan sebagai pernyataan tentang pengetahuan , ketrampilan sikap yang harus dikuasai siswa serta tingkat penguasaan yang diharapkan mampu di capai dalam suatu mata pelajaran tertentu.
Berdasarkan pengertian tersebut ,standar kompetensi mempunyai dua aspek antara lain standar isi dan standar kinerja. Standar kompetensi menyangkut aspek isi berupa pernyataan tentang pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang harus dikuasai siswa dalam mempelajari mata ajar tertentu. Sedangkan standar kompetensi yang menyangkut tentang penampilan yang berupa pernyataan tentang kriteria untuk menentukan tingkat penguasan siswa terhadap standar isi. Dengan kata lain standar kompetensi mempunyai dua penapsiran.
a. Pernyataan tujuan yang menjelaskan apa yang harus diketahui siswa dan kemampuan melakukan sesuatu dalam mempelajari mata ajar tertentu.
b. Spesiikasi skor atau peringkat kerja yang berkaitan dengan katagori pencapaian seperti lulus atau tidak .
Dalam merumuskan standar kompetensi ,menggunakan kata kerja yang operasional atau tidak operasional sesuai dengan karakteristik mata ajar serta cakupan materinya. Kata kerja operasional di gunakan untuk menafsirkan , menganalisis , mengevaluasi, membandingkan , mendiagnostik , mendemonstrasikan dan lainnya. Sedangkan kata kerja tidak operasional digunakan untuk mengetahui dan memahami.
Standar kompetensi ditinjau dari cakupannya dan kata kerjanya masih bersipat umum sehingga perlu dijabarkan menjadi sejumlah kompetensi dasar , dimana istilah ini sering disebut dengan kemampuan minimal.
2. Pengertian kompetensi dasar
Kompetensi dasar merupakan perincian dan penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi. Kompetensi dasar adalah pengetahuan , sikap dan ketrampilan minimal yang harus dikuasai peserta didik untuk menunjukan bahwa siswa telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Untuk memperoleh perincian tersebut kita perlu melakukan analisis standar kompetensi. Caranya dengan jalan mengajukan pertanyaan kemampuan dasar apa saja yang harus dikuasai siswa untuk mencapai standar kompetensi.
Sama dengan standar kompetensi, kompetensi dasar disusun menggunakan kata kerja operasional yaitu kata kerja yang dapat diamati dan di ukur misalnya, membandingkan, menghitung , menyusun , memproduksi dan lainnya.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran tercantum dalam standar isi, dianalisis dan dikaji dengan memperhatikan hal – hal sbb:
a. Urutan berdasarkan hirarki konsep disiplin ilmu dan atau tingkat kesulitan materi
b. Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran tertentu.
c. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran
Mengurutkan kompetensi dasar sama dengan mengurutkan standar kompetensi yaitu dengan menggunakan pendekatan prosedural , pendekatan hirarkies dari yang mudah ke yang sulit atau dari konkrit ke abstrak.
Pendekatan prosedural dapat digunakan apabila apabila standar kompetensi yang diajarkan berupa urutan langkah – langkah secara urut dalam mengerjakan suatu tugas pembelajaran.
Pendekatan hirarkies menunjukan hubungan yang bersifat berjenjang antar standar kompetensi yang ingin dicapai. Ada yang mendahului dan ada yang kemudian , standar kompetensi mendahului merupakan prasyarat bagi pencapaian standar kompetensi berikutnya.
Pendekatan berjala merupakan salah satu pendekatan terpadu dalam menyajikan topik dari bebrapa mata pelajaran yang relevan disajikan secara terpadu atau teintegrasi dengan menggunakan satu tema sebagai titik sentral.
3. Pengertian indikator
Indikator merupakan tanda – tanda yang dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui ketercapaian hasil pembelajaran atau kompetensi dasar. Indikator dirumuskan dengan kata kerja opersional yang bisa diukur dan akan memudahkan alam instrumen penilaianya . indikator pencapaian hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai tanda yang menunjukan terjadinya perubahan prilaku bagi peserta didik. Tanda tersebut lebih spesifik dan dapat diamati dalam diri peserta didik jika serangkaian indikator hasil belajar sudah nampak pada diri peserta didik , maka target kompetensi dasar tersebut sudah tercapai.
Menurut Bloom, indikator diklasifikasikan menjadi tiga kawasan yaitu
a. Domain kognitif mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan pengethuan dan kemampuan intelektual.
b. Domain afektif yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan perubahan sikap , nilai dan perasaan.
c. Domain psikomotorik yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan manipulasi dan kemampuan gerak.
a. Bloom juga mengklasifikasikan domain kognitif menjadi 6 tingkatan
a. Pengetahuan, didifinisikan sebagai ingatan terhadap materi atau bahan yang telah dipelajari sebelumnya. Ini mencakuo mengingat semua hal dari fakta yang sangat khusus sampai pada materi yang sangat kompleks. Pengetahuan merupakan belajar yang sangat rendah tingkatannya.
b. Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyerap art materi atau bahan yang dipelajari. Pemahaman dapat ditunjukan dengan menerjemahkan materi dari satu bentuk ke bentuk yang lain( dari kata ke angka) , meninterprestasikan materi( meringkas, menjelaskan dan meramalkan).pemahamanan satu tingkat lebih tinggi diatas pengetahuan.
c. Aplikasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan apa yang telah dipelajari dalam situasi konkret yang baru. Ini mencakup penggunaan dari peraturan , metode , konsep ,hukum dan teori. Hasil belajar dalam aplikasi memerlukan pengertian yang lebih tinggi dari pemahaman.
d. Analisis dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menguraikan sesuatu materi atau bahan ke dalam bagian – bagiannya sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Kemampuan ini mencakup identifkasi analisis hubungan antar bagian dan pengenalan prinsip – prinsip organisasi yang digunakan . hasil belajar pada analisis lebih lanjut menunjukan tingkat intelektual yang tinggi dari pada pemahaman dan aplikasi karena hasil belajar ini menhendaki pengertian dari isi dalam bentuk struktur dari materi.
e. Sintesis dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menggabungkan bagian – bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru. Hasil belajar pada sintesis ditekankan pada tingkah laku yang kreatif dengan penekanan utama pada formulasi pola dan struktur yang baru.
f. Evaluasi dimaksudkan sebagai kemampuan untuk mempertimbangkan nilai suatu materi untuk tujuan yang telah ditentukan. Hasil belajar dalam bentuk evaluasi adalah yang tertinggi dalam hirarki kognitif karena hasil belajar ini mengandung makna dari domain yang lain.
b. Klasifikasi domain afektif ( kratwohl,1964)
Klasiikasi afektif menurut kratwohl, Bloom dan Masia meliputi indikator yang berkenaan dengan minat , sikap dan nilai serta pengembangan penghargaan dan penyesuaian diri. Kawasan ini dibagi menjadi lima jenjang yaitu; penerimaan , pemberian respon , pemberian nilai atau penghargaan , penorganisasian dan karakteristik, secara singkat akan di uraikan sbb:
a. Penerimaan, meliputi kesadaran akan adanya suatu sistem nilai, ingin menerima nilai dan memperhatikan nilai tersebut.
b. Pemberian respon meliputi sikap ingin merespon terhadap sistem , puas dalam memberi respon.
c. Penilaian meliputi penerimaan terhadap suatu sistem nilai, memilih sistem nilai yang dikuasai dan memberikan komitmen untuk menggunakan sistem nilai tertentu.
d. Pengorganisasian meliputi memilah dan menghimpun sistem yang akan digunakan.
e. Karakteristik merupakan prilaku secara terus menerus sesuai dengan sistem nilai yang diorganisasikan
c. Klasifikasi psikomotorik
Klasifikasi domain psikomotorik adalah kemampuan yang meliputi keahlian menampilkan gerakan – gerakan kompleks secara efisien. Ketrampilan itu diproleh dengan berlatih. Kebutuhan intensitas latihan itu tergantung pada kekomplekan gerakan dan tuntutan terhadap tingkat kesempurnaan gerakan tersebut. Penilaian terhadap kesempurnaan tersebut dilihat dari isi ketepatan , ketelitian ,kecepatan, efisiensi, kehalusan, dan keindahan. Domain psikomotorik meliputi tingkatan peniruan, manipulasi, artikulasi, dan pengalamiahan.
4. Syarat – syarat penyusunan tujuan pembelajaran
Sebagai mana yang dipaparkan diatas bahwa indikator harus dirumuskan dengan kata kerja operasional yang bisa di ukur agar memberikan kemudahan dalam membuat instrumen penilaiannya. Karena itu indikator harus mengandung unsur – unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada penyusun tes agar dia dapat mengembangkan tes yang benar – benar dapat mengukur prilaku yang terdapat di dalamnya.
Bila indikator telah dirumuskan langkah berikutnya menyusun tujuan pembelajaran. Unsur dalam penyusunannya adalah ABCD yang berasal dari empat kata sbb:
A = audience adalah siswa yang akan belajar. Misalnya , siswa kelas 1
B = behavior adalah prilaku yang spesifik yang dimunculkan oleh siswa setelah proses pembelajaran. Prilaku ini terdiri dari dua bagian penting yakni kata kerja dan objek. Kata kerja menunjukan bagaimana siswa mendemonstrasikan sesuatu seperti menjelaskan , menggunakan, menyebutkan dan lain – lain.
C = condition adalah batasan yang dikenakan kepada mahasiswa atau alat yang digunakan mahasiswa pada saat dia dites, bukan pada saat dia belajar.
D = degree adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai prilaku tersebut. Keberhasilan ditunjukan dengan batas minimal yang harus dicapai dari penampilan suatu prilaku yang dapat diterima.
Prinsip yang serupa digunakan dalam sistem belajar tuntas yaitu sistem yang memperkenankan siswa maju ke bagian berikutnya apabila telah menguasai bagian yang sebelumnya.
Untuk menentukan batas minimal tidak ada rumus yang digunakan , tetapi sangat penting suatu prilaku harus dipertimbangkan dengan matang oleh perencanaan pembelajaran atas dasar kedudukan prilaku tersebut.
Disusun oleh : I Made Suparsa/ 5315077616
1. Standar kompetensi
Acuan yang digunakan untuk melaksanakan pendidikan dan memantau perkembangan mutu pendidikan yaitu standar kompetensi. Standar kompetensi merupakan batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dalam suatu mata ajar tertentu. Dengan demikian standar kompetensi dapat diartikan sebagai pernyataan tentang pengetahuan , ketrampilan sikap yang harus dikuasai siswa serta tingkat penguasaan yang diharapkan mampu di capai dalam suatu mata pelajaran tertentu.
Berdasarkan pengertian tersebut ,standar kompetensi mempunyai dua aspek antara lain standar isi dan standar kinerja. Standar kompetensi menyangkut aspek isi berupa pernyataan tentang pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang harus dikuasai siswa dalam mempelajari mata ajar tertentu. Sedangkan standar kompetensi yang menyangkut tentang penampilan yang berupa pernyataan tentang kriteria untuk menentukan tingkat penguasan siswa terhadap standar isi. Dengan kata lain standar kompetensi mempunyai dua penapsiran.
a. Pernyataan tujuan yang menjelaskan apa yang harus diketahui siswa dan kemampuan melakukan sesuatu dalam mempelajari mata ajar tertentu.
b. Spesiikasi skor atau peringkat kerja yang berkaitan dengan katagori pencapaian seperti lulus atau tidak .
Dalam merumuskan standar kompetensi ,menggunakan kata kerja yang operasional atau tidak operasional sesuai dengan karakteristik mata ajar serta cakupan materinya. Kata kerja operasional di gunakan untuk menafsirkan , menganalisis , mengevaluasi, membandingkan , mendiagnostik , mendemonstrasikan dan lainnya. Sedangkan kata kerja tidak operasional digunakan untuk mengetahui dan memahami.
Standar kompetensi ditinjau dari cakupannya dan kata kerjanya masih bersipat umum sehingga perlu dijabarkan menjadi sejumlah kompetensi dasar , dimana istilah ini sering disebut dengan kemampuan minimal.
2. Pengertian kompetensi dasar
Kompetensi dasar merupakan perincian dan penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi. Kompetensi dasar adalah pengetahuan , sikap dan ketrampilan minimal yang harus dikuasai peserta didik untuk menunjukan bahwa siswa telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Untuk memperoleh perincian tersebut kita perlu melakukan analisis standar kompetensi. Caranya dengan jalan mengajukan pertanyaan kemampuan dasar apa saja yang harus dikuasai siswa untuk mencapai standar kompetensi.
Sama dengan standar kompetensi, kompetensi dasar disusun menggunakan kata kerja operasional yaitu kata kerja yang dapat diamati dan di ukur misalnya, membandingkan, menghitung , menyusun , memproduksi dan lainnya.
Standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran tercantum dalam standar isi, dianalisis dan dikaji dengan memperhatikan hal – hal sbb:
a. Urutan berdasarkan hirarki konsep disiplin ilmu dan atau tingkat kesulitan materi
b. Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran tertentu.
c. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran
Mengurutkan kompetensi dasar sama dengan mengurutkan standar kompetensi yaitu dengan menggunakan pendekatan prosedural , pendekatan hirarkies dari yang mudah ke yang sulit atau dari konkrit ke abstrak.
Pendekatan prosedural dapat digunakan apabila apabila standar kompetensi yang diajarkan berupa urutan langkah – langkah secara urut dalam mengerjakan suatu tugas pembelajaran.
Pendekatan hirarkies menunjukan hubungan yang bersifat berjenjang antar standar kompetensi yang ingin dicapai. Ada yang mendahului dan ada yang kemudian , standar kompetensi mendahului merupakan prasyarat bagi pencapaian standar kompetensi berikutnya.
Pendekatan berjala merupakan salah satu pendekatan terpadu dalam menyajikan topik dari bebrapa mata pelajaran yang relevan disajikan secara terpadu atau teintegrasi dengan menggunakan satu tema sebagai titik sentral.
3. Pengertian indikator
Indikator merupakan tanda – tanda yang dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui ketercapaian hasil pembelajaran atau kompetensi dasar. Indikator dirumuskan dengan kata kerja opersional yang bisa diukur dan akan memudahkan alam instrumen penilaianya . indikator pencapaian hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai tanda yang menunjukan terjadinya perubahan prilaku bagi peserta didik. Tanda tersebut lebih spesifik dan dapat diamati dalam diri peserta didik jika serangkaian indikator hasil belajar sudah nampak pada diri peserta didik , maka target kompetensi dasar tersebut sudah tercapai.
Menurut Bloom, indikator diklasifikasikan menjadi tiga kawasan yaitu
a. Domain kognitif mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan pengethuan dan kemampuan intelektual.
b. Domain afektif yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan perubahan sikap , nilai dan perasaan.
c. Domain psikomotorik yang mencakup tujuan yang berhubungan dengan manipulasi dan kemampuan gerak.
a. Bloom juga mengklasifikasikan domain kognitif menjadi 6 tingkatan
a. Pengetahuan, didifinisikan sebagai ingatan terhadap materi atau bahan yang telah dipelajari sebelumnya. Ini mencakuo mengingat semua hal dari fakta yang sangat khusus sampai pada materi yang sangat kompleks. Pengetahuan merupakan belajar yang sangat rendah tingkatannya.
b. Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyerap art materi atau bahan yang dipelajari. Pemahaman dapat ditunjukan dengan menerjemahkan materi dari satu bentuk ke bentuk yang lain( dari kata ke angka) , meninterprestasikan materi( meringkas, menjelaskan dan meramalkan).pemahamanan satu tingkat lebih tinggi diatas pengetahuan.
c. Aplikasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan apa yang telah dipelajari dalam situasi konkret yang baru. Ini mencakup penggunaan dari peraturan , metode , konsep ,hukum dan teori. Hasil belajar dalam aplikasi memerlukan pengertian yang lebih tinggi dari pemahaman.
d. Analisis dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menguraikan sesuatu materi atau bahan ke dalam bagian – bagiannya sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Kemampuan ini mencakup identifkasi analisis hubungan antar bagian dan pengenalan prinsip – prinsip organisasi yang digunakan . hasil belajar pada analisis lebih lanjut menunjukan tingkat intelektual yang tinggi dari pada pemahaman dan aplikasi karena hasil belajar ini menhendaki pengertian dari isi dalam bentuk struktur dari materi.
e. Sintesis dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menggabungkan bagian – bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru. Hasil belajar pada sintesis ditekankan pada tingkah laku yang kreatif dengan penekanan utama pada formulasi pola dan struktur yang baru.
f. Evaluasi dimaksudkan sebagai kemampuan untuk mempertimbangkan nilai suatu materi untuk tujuan yang telah ditentukan. Hasil belajar dalam bentuk evaluasi adalah yang tertinggi dalam hirarki kognitif karena hasil belajar ini mengandung makna dari domain yang lain.
b. Klasifikasi domain afektif ( kratwohl,1964)
Klasiikasi afektif menurut kratwohl, Bloom dan Masia meliputi indikator yang berkenaan dengan minat , sikap dan nilai serta pengembangan penghargaan dan penyesuaian diri. Kawasan ini dibagi menjadi lima jenjang yaitu; penerimaan , pemberian respon , pemberian nilai atau penghargaan , penorganisasian dan karakteristik, secara singkat akan di uraikan sbb:
a. Penerimaan, meliputi kesadaran akan adanya suatu sistem nilai, ingin menerima nilai dan memperhatikan nilai tersebut.
b. Pemberian respon meliputi sikap ingin merespon terhadap sistem , puas dalam memberi respon.
c. Penilaian meliputi penerimaan terhadap suatu sistem nilai, memilih sistem nilai yang dikuasai dan memberikan komitmen untuk menggunakan sistem nilai tertentu.
d. Pengorganisasian meliputi memilah dan menghimpun sistem yang akan digunakan.
e. Karakteristik merupakan prilaku secara terus menerus sesuai dengan sistem nilai yang diorganisasikan
c. Klasifikasi psikomotorik
Klasifikasi domain psikomotorik adalah kemampuan yang meliputi keahlian menampilkan gerakan – gerakan kompleks secara efisien. Ketrampilan itu diproleh dengan berlatih. Kebutuhan intensitas latihan itu tergantung pada kekomplekan gerakan dan tuntutan terhadap tingkat kesempurnaan gerakan tersebut. Penilaian terhadap kesempurnaan tersebut dilihat dari isi ketepatan , ketelitian ,kecepatan, efisiensi, kehalusan, dan keindahan. Domain psikomotorik meliputi tingkatan peniruan, manipulasi, artikulasi, dan pengalamiahan.
4. Syarat – syarat penyusunan tujuan pembelajaran
Sebagai mana yang dipaparkan diatas bahwa indikator harus dirumuskan dengan kata kerja operasional yang bisa di ukur agar memberikan kemudahan dalam membuat instrumen penilaiannya. Karena itu indikator harus mengandung unsur – unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada penyusun tes agar dia dapat mengembangkan tes yang benar – benar dapat mengukur prilaku yang terdapat di dalamnya.
Bila indikator telah dirumuskan langkah berikutnya menyusun tujuan pembelajaran. Unsur dalam penyusunannya adalah ABCD yang berasal dari empat kata sbb:
A = audience adalah siswa yang akan belajar. Misalnya , siswa kelas 1
B = behavior adalah prilaku yang spesifik yang dimunculkan oleh siswa setelah proses pembelajaran. Prilaku ini terdiri dari dua bagian penting yakni kata kerja dan objek. Kata kerja menunjukan bagaimana siswa mendemonstrasikan sesuatu seperti menjelaskan , menggunakan, menyebutkan dan lain – lain.
C = condition adalah batasan yang dikenakan kepada mahasiswa atau alat yang digunakan mahasiswa pada saat dia dites, bukan pada saat dia belajar.
D = degree adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai prilaku tersebut. Keberhasilan ditunjukan dengan batas minimal yang harus dicapai dari penampilan suatu prilaku yang dapat diterima.
Prinsip yang serupa digunakan dalam sistem belajar tuntas yaitu sistem yang memperkenankan siswa maju ke bagian berikutnya apabila telah menguasai bagian yang sebelumnya.
Untuk menentukan batas minimal tidak ada rumus yang digunakan , tetapi sangat penting suatu prilaku harus dipertimbangkan dengan matang oleh perencanaan pembelajaran atas dasar kedudukan prilaku tersebut.
Disusun oleh : I Made Suparsa/ 5315077616
Minggu, 29 November 2009
Pokok -- Pokok Kajian Tentang Supervisi Pendidikan
1. PENDAHULUAN
Setiap aktivitas besar ataupun kecil, yang tercapainya tergantung kepada beberapa orang. Diperlukan adanya organisasi didalam segala gerak langkah untuk mengkoordinasikan semua gerak langkah tersebut, pimpinan sekolah harus berusaha mengetahui keseluruhan situasi disekolahnya dalam segala bidang. Usaha pimpinan dab guru-guru untuk mengetahui situasi lingkungan sekolah dalam segala kegiatannya, di sebut supervise atau pengawasan sekolah.
Istilah supervisi ini kiranya belum begitu lazim dipergunakan dalam lingkungan persekolahan dan kepegawaian kita disaat-saat sekarang. Tetapi makin lama makin dikenal dan makin banyak dipergunakan orang. Namun demikian mengenai arti, fungsi, dan tujuan yang terkandung didalamnya, masih merupakan tanda tanya, apakah sudah benar-benar dipahami oleh orang yang mempergunakan istilah itu.
Dalam bukunya " Role Of Supervisor And Curiculum Directors In A Climate Of Change ". Ceeper menyimpulkan beberapa hal yang memberi gambaran tentang latar belakang perlunya supervise antara lain. (12 : 12 ) :
1. Bahwa dalam perubahan social dewasa ini perlu diperhatikan dimensi baru, yaitu perlu perubahan teknologi ruang angkasa.
2. Berkembangnya science dan teknologi yang semakin cepat.
3. Adanya urbanisasi yang semakin meningkat, menyebabkan masalah baru dalam pendidikan.
4. Adanya tuntutan hak-hak asasi manusia yang juga menyebabkan problema bagi para pendidik yang memerlukan pemecahan secara rasional.
5. Akibatnya pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran menyebabkan adanya :
- Daerah-daerah miskin dan kaya
- Adanya banyak waktu terbuang
- Kecenderungan muda-mudi memerlukan pendidikan umum dan kejuruan untuk dapat bekerja/mencari pekerjaan dalam masyarakat.
6. Suburnya birokrasi dapat menghambat kelancaran dalam bidang pendidikan.
Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervise. Pengawasan bertanggung jawab tentang keefektifan program itu. Oleh karena itu, supervise haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan di sekolah dan usaha professional, kelanjutan kunjungan pengontrolan (supervisi) oleh pengawas utama hendaknya dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan.
2. PENGERTIAN SUPERVISI
Dalam dunia pendidikan kita selalu melihat ada supervise didalamnya, sebagaimana telah diketahui bahwa tidak ada dua orang yang sama, apalagi lebih dari dua orang. Maka dapat dimaklumi bahwa rumusan tentang apa yang dimaksud dengan supervise berbeda-beda.
Menurut P. Adam dan Frank G. Dickey, supervisi adalah suatu program yang berencana untuk memperbaiki pengajaran ( supervision is a planed, program for the improvement of instruction ).
Dalam Dictionary of Education, Good Carter memberikan definisi sebagai berikut: Supervisi adalah segala usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas pendidikan lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk memperkembangkan pertumbuhan guru-guru, menyelesaikan dan merevisi tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran dan metode mengajar dan penilaian pengajaran.
Menurut Boardaman, supervise adalah suatu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru sekolah, baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran, sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern.
Mc. Nerney meninjau supervise sebagai suatu proses penilaian mengatakan: supervise adalah prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran.
Dalam pelaksanaannya, supervise bukan hanya mengawasi apakah para guru atau pegawai menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengna intruksi atau ketentuan –ketentuanyang telah digariskan, tetapi juga berusaha bersama guru-guru, bagaimana cara-cara memperbaiki proses belajar mengajar. Jadi, dalam kegiatan supervise, guru-guru tidak dianggap sebagai pelaksana pasif, melainkan diperlakukan sebagai partner bekerjayang memiliki ide-ide, pendapat-pendapat, pengalaman-pengalaman yang perlu didengar dan dihargai serta diikutsertakan di dalam usaha-usaha perbaikan pendidikan.
Sesuai apa yang dikatan Burton dalam bukunya, " Supervision a social Process ", maka Dia dapat merumuskan supervisi sebagai berikut:
1) Supervisi yang baik mengarahkan perhatiannya kepada dasar-dasar pendidikan dan cara-cara belajar serta perkembangannya dalam pencapaian tujuan umum pendidikan.
2) Tujuan supervise adalah perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total.
3) Fokusnya pada setting for learning, bukan pada seseorang atau sekelompok orang. Yang sama-sama bertujuan untuk mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kegiatan belajar-mengajar yang baik.
Sesuai dengan rumusan di atas, maka kegiatan atau usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam rangka pelaksanaan supervise dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru dan pegawai sekolah lainnya dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya.
b. Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan termasuk macam-macam media instruksional yang diperlukan bagi kelancaran jalannya proses belajar mengajar yang baik.
c. Bersama-sama guru-guru, berusaha mngembangkan, mencari dan menggunakan metode-metode dalam proses belajar mengajar yang lebih baik.
d. Membina kerja sama yang baik dan harmonis antara guru, murid, dan pegawai sekolah lainnya.
e. Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru-guru dan pegawai sekolah, antara lain dengan mengadakan workshop, seminar, dll.
3. TUJUAN DAN FUNGSI SUPERVISI
Tujuan supervise adalah memperkembangkan situasi belajara dan mengajar yang lebih baik. Usaha kearah perbaikan belajar dan mengajar ditujukan kepada pencapaian tujuan akhir dari pendidikan yaitu pembentukan pribadi anak secara maksimal.
Secara operasional dapat dikemukakan beberpa tujuan konkrit dari supervise pendidikan antara lain:
a. Membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan
b. Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar siswa
c. Membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar siswa
d. Membantu guru dalam hal menilai kemajuan siswa dan hasil pekerjaan guru itu sendiri.
e. Membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka.
Adapun fungsi supervisi dapat dibedakan menjadi dua bagian ynag besar yaitu :
1. Fungsi utama ialah membantu sekolah yang sekaligus mewakili pemerintah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu perkembangan individu para siswa.
2. Fungsi tambahan ialah membantu sekolah dalam membina guru–guru agar dapat bekerja dengan baik dan dalam mengadakan kontak dengan masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri dengan tuntutan masyaarakat serta mempelopori kemajuan masyarakat.
Swearingen memberi 8 fungsi:
1. Mengkoordinasi semua usaha sekolah
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah
3. Memperluas pengalaman guru-guru
4. Mestimulasi usaha-usaha yang kreatif
5. Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus menerus
6. Menganalisa situasi belajar dan mengajar
7. Memberikan pengetahuan dan skiil kepada setiap anggota staf
8. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.
Adapun menurut Ngalim Purwanto, fungsi-fingsi supervisi pendidikan yang sangat penting di ketahui oleh para pimpinan pendidikan termasuk kepala sekolah, adalah sebagai berikut:
1) Dalam Bidang Kepemimpinan
a. Mengikutsertakan anggota-anggota kelompok dalam berbagai kegiatan
b. Memberikan bantuan kepada anggota kelompok dalam menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan.
c. Mengikutsertakan semua anggota dalam menetapkan keputusan-keputusan.
d. Mempertinggi daya kreatif pada anggota kelompok.
2) Dalam Hubungan Kemanusiaan
a. Membantu mengatasi kekurangan ataupun kesulitan yang dihadapi anggota kelompok.
b. Mengarahkan anggota kelompok kepada sikap-sikap yang demokratis.
c. Memupuk rasa saling menghormati di antara sesama anggota kelompok dan sesama manusia.
3) Dalam Pembinaan Proses Kelompok
a. Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik kelemahan maupun kemampuan masing-masing.
b. Menimbulkan dan memelihara sikap saling mempercayai anatara sesama anggota maupun antara anggota dan pimpinan.
c. Memperbesar rasa tanggung jawab para anggota kelompok.
d. Bertindak bijaksana dalam menyelesaikan pertentangan atau perselisihan pendapat di antara anggota kelompok.
4) Dalam Bidang Administrasi Personil
a. Memilih personil yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan.
b. Menempatkan personil pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing.
c. Mengusahakan susunan kerja yang menyenangkan dan meningkatkan daya kerja serta hasil maksimal.
5) Dalam Bidang Evaluasi
a. Menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus dan terinci.
b. Menguasai dan memilki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai kriterian penilaian.
c. Menguasai teknik-teknik pengumpulan data untuk memperoleh data yang lenkap, benar, dan dapat diolah menurut norma-norma yang ada.
d. Menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga mendapat gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan.
4. SYARAT-SYARAT SUPERVISOR
Sebagai seorang supervisor, yang harus melaksanakan tugas tanggungjawabnya hendaknya mempunyai persyaratan-persyaratan idiil. Dilihat dari segi kepribadiannya (personality) syarat-syarat tersebut adalah sebagi berikut:
1. Ia harus mempunyai perikemanusiaan dan solidaritas yang tinggi, dapat menilai orang lain secara teliti dari segi kemanusiaannya serta dapat bergaul dengan baik.
2. Ia harus dapat memelihara dan menghargai dengan sungguh-sungguh semua kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang berhubungan dengannya.
3. Ia harus berjiwa optimis yang berusaha mencari yang baik, mengharapkan yang baik dan melihat segi-segi yang baik.
4. Hendaknya bersifat adil dan jujur, sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh penyimpangan-penyimpangan manusia.
5. Hendaknya ia cukup tegas dan objektif (tidak memihak), sehingga guru-guru yang lemah dalam stafnya tidak "hilang dalam bayangan" orang-orang yang kuat pribadnya.
6. Ia harus berjiwa terbuka dan luas, sehingga lekas dan mudah dapat memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi yang baik.
7. Jiwanya yang terbuka tidak boleh menimbulkan prasangka terhadap seseorang untuk selama-lamanya hanya karena sesuatu kesalahan saja.
8. Ia hendaknya sedemikian jujur, terbuka dan penuh tanggung jawab.
9. Ia harus cukup taktik, sehingga kritiknya tidak menyinggung perasaan orang lain.
10. Sikapnya yang bersimpati terhadap guru-gurunya tidak akan menimbulkan depresi dan putus asa pada anggota-anggota stafnya.
5. TUGAS-TUGAS SUPERVISOR
Sehubungan dengan fungsi-fungsi supervise yang telah dibahas di atas, maka pemakala mengemukakan 10 macam tugas supervise pendidikan dari 26 macam supervisi yang telah dikemukakan oleh Ngalim Purwanto.
1. Menghadiri rapat atau pertemuan organisasi-organisasi profesional.
2. Mendiskusikan tujuan-tujuan dan filsafat pendidikan dengan guru-guru.
3. Melakukan classroom visitation atau class visit
4. Mengadakan rapat-rapat kelompok untuk membicarakan masalah-masalah umum.
5. Mengadakan pertemuan-pertemuan individual dengan guru-guru tentang masalah-masalah yang mereka usulkan.
6. Mnediskusikan metode-metode mengajar dengan guru-guru.
7. Memilih dan menilai buku-buku yang diperlukan bagi murid-murid.
8. Membimbing guru-guru dalam menyusun dan mengembangkan sumber-sumber atau unit-unit pengajaran.
9. Memberikan saran-saran atau instruksi tentang bagaimana melaksanakan statu unit pengajaran.
10. Mengorganisasi dan bekerja dengan kelompok guru-guru dalam program revisi kurikulum.
6. TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI
Banyak ahli menyebut tehnik-tehnik supervise pendidikan secara agak berbeda berdasarkan titik tolak pandang yang dianutnya. Chart berikut mencoba membeberkan beberapa tehnik yang dikemukakan para penulis ada persamaan dan perbedaannya. Adapun tehnik-tehnik supervisi pendidikan sebagai berikut:
A. Tehnik Yang Bersifat Individual
Tehnik yang bersifat individual antara lain:
1. Perkunjungan Kelas ( Classroom Visitation )
a. Pengertian.
Yaitu seorang pembina atau kepala sekolah datang ke kelas dimana guru sedang mengajar. Ia mengadakan peninjauan terhadap suasana belajar dikelas itu.
b. Tujuan
Ialah menolong guru-guru dalam hal pemecahan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Dalam perkunjungan kelas yang diutamakan ialah memepelajari sifat dan kualitas cara belajar anak dan bagaimana guru membimbing siswa.
c. Fungsi
Sebagai alat untuk memajukan cara mengajar dan cara belajar dan mengajar yang baru. Perkunjungan juga membantu pertumbuhan profesional baik guru maupun supervisor karena memberi kesempatan untuk meneliti prinsip dan hal belajar mengajar.
d. Jenis
1) Perkunjungan tanpa diberitahukan sebelumnya
2) Perkunjungan dengan memberitahukan
3) Perkunjungan atas dasar undangan guru
2. Observasi Kelas
Dalam melaksanakan perkunjungan supervisor mengadakan observasi, maksudnya meneliti suasana kelas selama pelajaran berlangsung.
a. Jenis Observasi Kelas
- Observasi langsung, yaitu seorang guru yang sedang mengajar diobservasi langsung oleh supervisor. Ia berada diantara dan bersama-sama dalam kelas
- Observasi tidak langsung, yaitu orang yang mengobservasi dibatasi oleh ruang kaca dimana siswa tidak mengetahuinya.
b. Tujuan Observasi Kelas
Untuk memperoleh data yang seobjektif mungkin sehingga bahan yang diperoleh dapat digunakan untuk menganalisa kesulitan-kesuliatan yang dihadapi guru-guru dalam usaha memperbaiki hal belajar mengajar.
B. Tehnik Yang Bersifat Kelompok
Yang dimaksud dengan teknik-teknik yang bersifat kelompok ialah teknik-teknik yang digunakan itu dilaksanakan bersama-samaoleh supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok. Teknik-teknik itu antara lain :
1. Rapat Guru
Rapat guru merupakan salah satu teknik supervisi untuk memperbaiki situasi belajar dan mengajar.
Macam-macam rapat guru antara lain :
a. Menurut Tingkatannya
1) Staff – Meeting Yaitu rapat guru-guru dalam satu sekolah yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian guru di sekolah tersebut.
2) Rapat guru-guru bersama dengan orang tua murid dan murid-murid/ wakil-wakilnya.
3) Rapat guru es-kota, se-wilayah, se-rayon, dari sekolah yang sejenis dan setingkat.
4) Rapat guru-guru dari beberapa sekolah yang bertetangga.
5) Rapat kepala-kepala sekolah.
b. Menurut Waktunya
1) Rapat permulaan dan akhir tahun
2) Rapat periodik
3) Rapat-rapat yang bersifat insidental
c. Tujuan-tujuan Umum Rapat Guru
1) Menyatukan pandangan-pandangan guru tentang konsep umum, makna pendidikan dan fungsi sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan itu dimana mereka bertanggung jawab bersama-sama.
2) Mendorong guru untuk menerima dan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan mendorong pertumbuhan mereka.
3) Menyatukan pendapat tentang metode kerja yang akan membawa mereka bersama ke arah pencapaian tujuan pengajaran yang maksimal di sekolah tersebut.
2. Studi Kelompok Antar Guru
Guru-guru dalam mata pelajaran sejenis berkumpul bersama untuk mempelajari suatu masalah atau sejumlah pelajaran. Pokok bahasan telah ditentukan dan diperinci dalam garis-garis besar atau dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan pokok yang telah disusun secara teratur. Untuk mempelajari bahan-bahan dapat dipergunakan bermacam-macam teknik berkomunikasi. Misalnya seorang yang mengemukakan sesuatu masalah dan dibahas bersama. Sebaiknya bahan-bahan itu telah dipelajari lebih dahulu. Untuk dapat memperkaya pembahasan diperlukan cukup banyak sumber-sumber buku.
7. KESIMPULAN
Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi belajar mengajar agar memperoleh kondisi yang lebih baik. Meskipun tujuan akhirnya tertuju pada hasil belajar siswa, namun yang diutamakan dalam supervisi adalah bantuan kepada guru.
Supervisi pendidikan berfungsi untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif tentang suatu situasi pendidikan, Penilaian (evaluation) ? lebih menekankan pada aspek daripada negative, Perbaikan (improvement) ? dapat mengatahui bagaimana situasi pendidikan/pengajaran pada umumnya dan situasi belajar mengajarnya., Pembinaan ? berupa bimbingan (guidance) kea rah pembinaan diri yang disupervisi
Tujuan akhir dari supervisi pendidikan adalah meningkatkan professional guru dan karyawan sekolah guna menunjang akuntabilitas siswa dalam belajar, sehingga siswa benar-benar menjadi manusia yang berilmu, berbudi dan kreatif dalam segala hal sesuai dengan amanah UUD 45.
Sumber: http://one.indoskripsi.com/node/10016
Setiap aktivitas besar ataupun kecil, yang tercapainya tergantung kepada beberapa orang. Diperlukan adanya organisasi didalam segala gerak langkah untuk mengkoordinasikan semua gerak langkah tersebut, pimpinan sekolah harus berusaha mengetahui keseluruhan situasi disekolahnya dalam segala bidang. Usaha pimpinan dab guru-guru untuk mengetahui situasi lingkungan sekolah dalam segala kegiatannya, di sebut supervise atau pengawasan sekolah.
Istilah supervisi ini kiranya belum begitu lazim dipergunakan dalam lingkungan persekolahan dan kepegawaian kita disaat-saat sekarang. Tetapi makin lama makin dikenal dan makin banyak dipergunakan orang. Namun demikian mengenai arti, fungsi, dan tujuan yang terkandung didalamnya, masih merupakan tanda tanya, apakah sudah benar-benar dipahami oleh orang yang mempergunakan istilah itu.
Dalam bukunya " Role Of Supervisor And Curiculum Directors In A Climate Of Change ". Ceeper menyimpulkan beberapa hal yang memberi gambaran tentang latar belakang perlunya supervise antara lain. (12 : 12 ) :
1. Bahwa dalam perubahan social dewasa ini perlu diperhatikan dimensi baru, yaitu perlu perubahan teknologi ruang angkasa.
2. Berkembangnya science dan teknologi yang semakin cepat.
3. Adanya urbanisasi yang semakin meningkat, menyebabkan masalah baru dalam pendidikan.
4. Adanya tuntutan hak-hak asasi manusia yang juga menyebabkan problema bagi para pendidik yang memerlukan pemecahan secara rasional.
5. Akibatnya pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran menyebabkan adanya :
- Daerah-daerah miskin dan kaya
- Adanya banyak waktu terbuang
- Kecenderungan muda-mudi memerlukan pendidikan umum dan kejuruan untuk dapat bekerja/mencari pekerjaan dalam masyarakat.
6. Suburnya birokrasi dapat menghambat kelancaran dalam bidang pendidikan.
Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervise. Pengawasan bertanggung jawab tentang keefektifan program itu. Oleh karena itu, supervise haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan di sekolah dan usaha professional, kelanjutan kunjungan pengontrolan (supervisi) oleh pengawas utama hendaknya dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan.
2. PENGERTIAN SUPERVISI
Dalam dunia pendidikan kita selalu melihat ada supervise didalamnya, sebagaimana telah diketahui bahwa tidak ada dua orang yang sama, apalagi lebih dari dua orang. Maka dapat dimaklumi bahwa rumusan tentang apa yang dimaksud dengan supervise berbeda-beda.
Menurut P. Adam dan Frank G. Dickey, supervisi adalah suatu program yang berencana untuk memperbaiki pengajaran ( supervision is a planed, program for the improvement of instruction ).
Dalam Dictionary of Education, Good Carter memberikan definisi sebagai berikut: Supervisi adalah segala usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas pendidikan lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk memperkembangkan pertumbuhan guru-guru, menyelesaikan dan merevisi tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran dan metode mengajar dan penilaian pengajaran.
Menurut Boardaman, supervise adalah suatu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru sekolah, baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran, sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern.
Mc. Nerney meninjau supervise sebagai suatu proses penilaian mengatakan: supervise adalah prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran.
Dalam pelaksanaannya, supervise bukan hanya mengawasi apakah para guru atau pegawai menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengna intruksi atau ketentuan –ketentuanyang telah digariskan, tetapi juga berusaha bersama guru-guru, bagaimana cara-cara memperbaiki proses belajar mengajar. Jadi, dalam kegiatan supervise, guru-guru tidak dianggap sebagai pelaksana pasif, melainkan diperlakukan sebagai partner bekerjayang memiliki ide-ide, pendapat-pendapat, pengalaman-pengalaman yang perlu didengar dan dihargai serta diikutsertakan di dalam usaha-usaha perbaikan pendidikan.
Sesuai apa yang dikatan Burton dalam bukunya, " Supervision a social Process ", maka Dia dapat merumuskan supervisi sebagai berikut:
1) Supervisi yang baik mengarahkan perhatiannya kepada dasar-dasar pendidikan dan cara-cara belajar serta perkembangannya dalam pencapaian tujuan umum pendidikan.
2) Tujuan supervise adalah perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total.
3) Fokusnya pada setting for learning, bukan pada seseorang atau sekelompok orang. Yang sama-sama bertujuan untuk mengembangkan situasi yang memungkinkan terciptanya kegiatan belajar-mengajar yang baik.
Sesuai dengan rumusan di atas, maka kegiatan atau usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam rangka pelaksanaan supervise dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru dan pegawai sekolah lainnya dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya.
b. Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan termasuk macam-macam media instruksional yang diperlukan bagi kelancaran jalannya proses belajar mengajar yang baik.
c. Bersama-sama guru-guru, berusaha mngembangkan, mencari dan menggunakan metode-metode dalam proses belajar mengajar yang lebih baik.
d. Membina kerja sama yang baik dan harmonis antara guru, murid, dan pegawai sekolah lainnya.
e. Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru-guru dan pegawai sekolah, antara lain dengan mengadakan workshop, seminar, dll.
3. TUJUAN DAN FUNGSI SUPERVISI
Tujuan supervise adalah memperkembangkan situasi belajara dan mengajar yang lebih baik. Usaha kearah perbaikan belajar dan mengajar ditujukan kepada pencapaian tujuan akhir dari pendidikan yaitu pembentukan pribadi anak secara maksimal.
Secara operasional dapat dikemukakan beberpa tujuan konkrit dari supervise pendidikan antara lain:
a. Membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan
b. Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar siswa
c. Membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar siswa
d. Membantu guru dalam hal menilai kemajuan siswa dan hasil pekerjaan guru itu sendiri.
e. Membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka.
Adapun fungsi supervisi dapat dibedakan menjadi dua bagian ynag besar yaitu :
1. Fungsi utama ialah membantu sekolah yang sekaligus mewakili pemerintah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu perkembangan individu para siswa.
2. Fungsi tambahan ialah membantu sekolah dalam membina guru–guru agar dapat bekerja dengan baik dan dalam mengadakan kontak dengan masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri dengan tuntutan masyaarakat serta mempelopori kemajuan masyarakat.
Swearingen memberi 8 fungsi:
1. Mengkoordinasi semua usaha sekolah
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah
3. Memperluas pengalaman guru-guru
4. Mestimulasi usaha-usaha yang kreatif
5. Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus menerus
6. Menganalisa situasi belajar dan mengajar
7. Memberikan pengetahuan dan skiil kepada setiap anggota staf
8. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.
Adapun menurut Ngalim Purwanto, fungsi-fingsi supervisi pendidikan yang sangat penting di ketahui oleh para pimpinan pendidikan termasuk kepala sekolah, adalah sebagai berikut:
1) Dalam Bidang Kepemimpinan
a. Mengikutsertakan anggota-anggota kelompok dalam berbagai kegiatan
b. Memberikan bantuan kepada anggota kelompok dalam menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan.
c. Mengikutsertakan semua anggota dalam menetapkan keputusan-keputusan.
d. Mempertinggi daya kreatif pada anggota kelompok.
2) Dalam Hubungan Kemanusiaan
a. Membantu mengatasi kekurangan ataupun kesulitan yang dihadapi anggota kelompok.
b. Mengarahkan anggota kelompok kepada sikap-sikap yang demokratis.
c. Memupuk rasa saling menghormati di antara sesama anggota kelompok dan sesama manusia.
3) Dalam Pembinaan Proses Kelompok
a. Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik kelemahan maupun kemampuan masing-masing.
b. Menimbulkan dan memelihara sikap saling mempercayai anatara sesama anggota maupun antara anggota dan pimpinan.
c. Memperbesar rasa tanggung jawab para anggota kelompok.
d. Bertindak bijaksana dalam menyelesaikan pertentangan atau perselisihan pendapat di antara anggota kelompok.
4) Dalam Bidang Administrasi Personil
a. Memilih personil yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan.
b. Menempatkan personil pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing.
c. Mengusahakan susunan kerja yang menyenangkan dan meningkatkan daya kerja serta hasil maksimal.
5) Dalam Bidang Evaluasi
a. Menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus dan terinci.
b. Menguasai dan memilki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai kriterian penilaian.
c. Menguasai teknik-teknik pengumpulan data untuk memperoleh data yang lenkap, benar, dan dapat diolah menurut norma-norma yang ada.
d. Menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga mendapat gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan.
4. SYARAT-SYARAT SUPERVISOR
Sebagai seorang supervisor, yang harus melaksanakan tugas tanggungjawabnya hendaknya mempunyai persyaratan-persyaratan idiil. Dilihat dari segi kepribadiannya (personality) syarat-syarat tersebut adalah sebagi berikut:
1. Ia harus mempunyai perikemanusiaan dan solidaritas yang tinggi, dapat menilai orang lain secara teliti dari segi kemanusiaannya serta dapat bergaul dengan baik.
2. Ia harus dapat memelihara dan menghargai dengan sungguh-sungguh semua kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang berhubungan dengannya.
3. Ia harus berjiwa optimis yang berusaha mencari yang baik, mengharapkan yang baik dan melihat segi-segi yang baik.
4. Hendaknya bersifat adil dan jujur, sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh penyimpangan-penyimpangan manusia.
5. Hendaknya ia cukup tegas dan objektif (tidak memihak), sehingga guru-guru yang lemah dalam stafnya tidak "hilang dalam bayangan" orang-orang yang kuat pribadnya.
6. Ia harus berjiwa terbuka dan luas, sehingga lekas dan mudah dapat memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi yang baik.
7. Jiwanya yang terbuka tidak boleh menimbulkan prasangka terhadap seseorang untuk selama-lamanya hanya karena sesuatu kesalahan saja.
8. Ia hendaknya sedemikian jujur, terbuka dan penuh tanggung jawab.
9. Ia harus cukup taktik, sehingga kritiknya tidak menyinggung perasaan orang lain.
10. Sikapnya yang bersimpati terhadap guru-gurunya tidak akan menimbulkan depresi dan putus asa pada anggota-anggota stafnya.
5. TUGAS-TUGAS SUPERVISOR
Sehubungan dengan fungsi-fungsi supervise yang telah dibahas di atas, maka pemakala mengemukakan 10 macam tugas supervise pendidikan dari 26 macam supervisi yang telah dikemukakan oleh Ngalim Purwanto.
1. Menghadiri rapat atau pertemuan organisasi-organisasi profesional.
2. Mendiskusikan tujuan-tujuan dan filsafat pendidikan dengan guru-guru.
3. Melakukan classroom visitation atau class visit
4. Mengadakan rapat-rapat kelompok untuk membicarakan masalah-masalah umum.
5. Mengadakan pertemuan-pertemuan individual dengan guru-guru tentang masalah-masalah yang mereka usulkan.
6. Mnediskusikan metode-metode mengajar dengan guru-guru.
7. Memilih dan menilai buku-buku yang diperlukan bagi murid-murid.
8. Membimbing guru-guru dalam menyusun dan mengembangkan sumber-sumber atau unit-unit pengajaran.
9. Memberikan saran-saran atau instruksi tentang bagaimana melaksanakan statu unit pengajaran.
10. Mengorganisasi dan bekerja dengan kelompok guru-guru dalam program revisi kurikulum.
6. TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI
Banyak ahli menyebut tehnik-tehnik supervise pendidikan secara agak berbeda berdasarkan titik tolak pandang yang dianutnya. Chart berikut mencoba membeberkan beberapa tehnik yang dikemukakan para penulis ada persamaan dan perbedaannya. Adapun tehnik-tehnik supervisi pendidikan sebagai berikut:
A. Tehnik Yang Bersifat Individual
Tehnik yang bersifat individual antara lain:
1. Perkunjungan Kelas ( Classroom Visitation )
a. Pengertian.
Yaitu seorang pembina atau kepala sekolah datang ke kelas dimana guru sedang mengajar. Ia mengadakan peninjauan terhadap suasana belajar dikelas itu.
b. Tujuan
Ialah menolong guru-guru dalam hal pemecahan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Dalam perkunjungan kelas yang diutamakan ialah memepelajari sifat dan kualitas cara belajar anak dan bagaimana guru membimbing siswa.
c. Fungsi
Sebagai alat untuk memajukan cara mengajar dan cara belajar dan mengajar yang baru. Perkunjungan juga membantu pertumbuhan profesional baik guru maupun supervisor karena memberi kesempatan untuk meneliti prinsip dan hal belajar mengajar.
d. Jenis
1) Perkunjungan tanpa diberitahukan sebelumnya
2) Perkunjungan dengan memberitahukan
3) Perkunjungan atas dasar undangan guru
2. Observasi Kelas
Dalam melaksanakan perkunjungan supervisor mengadakan observasi, maksudnya meneliti suasana kelas selama pelajaran berlangsung.
a. Jenis Observasi Kelas
- Observasi langsung, yaitu seorang guru yang sedang mengajar diobservasi langsung oleh supervisor. Ia berada diantara dan bersama-sama dalam kelas
- Observasi tidak langsung, yaitu orang yang mengobservasi dibatasi oleh ruang kaca dimana siswa tidak mengetahuinya.
b. Tujuan Observasi Kelas
Untuk memperoleh data yang seobjektif mungkin sehingga bahan yang diperoleh dapat digunakan untuk menganalisa kesulitan-kesuliatan yang dihadapi guru-guru dalam usaha memperbaiki hal belajar mengajar.
B. Tehnik Yang Bersifat Kelompok
Yang dimaksud dengan teknik-teknik yang bersifat kelompok ialah teknik-teknik yang digunakan itu dilaksanakan bersama-samaoleh supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok. Teknik-teknik itu antara lain :
1. Rapat Guru
Rapat guru merupakan salah satu teknik supervisi untuk memperbaiki situasi belajar dan mengajar.
Macam-macam rapat guru antara lain :
a. Menurut Tingkatannya
1) Staff – Meeting Yaitu rapat guru-guru dalam satu sekolah yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian guru di sekolah tersebut.
2) Rapat guru-guru bersama dengan orang tua murid dan murid-murid/ wakil-wakilnya.
3) Rapat guru es-kota, se-wilayah, se-rayon, dari sekolah yang sejenis dan setingkat.
4) Rapat guru-guru dari beberapa sekolah yang bertetangga.
5) Rapat kepala-kepala sekolah.
b. Menurut Waktunya
1) Rapat permulaan dan akhir tahun
2) Rapat periodik
3) Rapat-rapat yang bersifat insidental
c. Tujuan-tujuan Umum Rapat Guru
1) Menyatukan pandangan-pandangan guru tentang konsep umum, makna pendidikan dan fungsi sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan itu dimana mereka bertanggung jawab bersama-sama.
2) Mendorong guru untuk menerima dan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan mendorong pertumbuhan mereka.
3) Menyatukan pendapat tentang metode kerja yang akan membawa mereka bersama ke arah pencapaian tujuan pengajaran yang maksimal di sekolah tersebut.
2. Studi Kelompok Antar Guru
Guru-guru dalam mata pelajaran sejenis berkumpul bersama untuk mempelajari suatu masalah atau sejumlah pelajaran. Pokok bahasan telah ditentukan dan diperinci dalam garis-garis besar atau dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan pokok yang telah disusun secara teratur. Untuk mempelajari bahan-bahan dapat dipergunakan bermacam-macam teknik berkomunikasi. Misalnya seorang yang mengemukakan sesuatu masalah dan dibahas bersama. Sebaiknya bahan-bahan itu telah dipelajari lebih dahulu. Untuk dapat memperkaya pembahasan diperlukan cukup banyak sumber-sumber buku.
7. KESIMPULAN
Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi belajar mengajar agar memperoleh kondisi yang lebih baik. Meskipun tujuan akhirnya tertuju pada hasil belajar siswa, namun yang diutamakan dalam supervisi adalah bantuan kepada guru.
Supervisi pendidikan berfungsi untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif tentang suatu situasi pendidikan, Penilaian (evaluation) ? lebih menekankan pada aspek daripada negative, Perbaikan (improvement) ? dapat mengatahui bagaimana situasi pendidikan/pengajaran pada umumnya dan situasi belajar mengajarnya., Pembinaan ? berupa bimbingan (guidance) kea rah pembinaan diri yang disupervisi
Tujuan akhir dari supervisi pendidikan adalah meningkatkan professional guru dan karyawan sekolah guna menunjang akuntabilitas siswa dalam belajar, sehingga siswa benar-benar menjadi manusia yang berilmu, berbudi dan kreatif dalam segala hal sesuai dengan amanah UUD 45.
Sumber: http://one.indoskripsi.com/node/10016
Langganan:
Postingan (Atom)